Magic4rt Blog

Digital Art And Information

Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan

Senin, November 25, 2013

Mengetahui Tentang Sensor Kamera?


Sensor bisa dikatakan adalah jantung atau pusat dari kamera kalian. Sensor gambar memainkan peran yang sangat mendasar dalam fotografi digital, Jadi mengetahui dan memahami bagaimana karakter kunci sensor akan sangat membantu Sobat InFotografi saat berinteraksi dengan kamera digital. Apa saja sih yang harus kita ketahui tentang Sensor gambar?

Ukuran Sensor
Sensor gambar terdapat beberapa ukuran, salah satunya adalah full-frame yang memiliki ukuran yang sama dengan frame film 35m. Pengetahuan tentang bagaimana pentingnya ukuran sensor merupakan hal yang vital dalam fotografi, mengapa? simak yuk alasan-alasan berikut:

  • Ukuran sensor gambar menentukan focal length lensa yang digunakan oleh kamera.
  • Ukuran sensor yang lebih besar pada umumnya mampu menghasilkan kualitas gambar yang lebih bagus, karena pixel lebih besar dan akan menghasilkan sedikit noise.
  • Semakin besar ukuran sensor maka harga juga akan semakin mahal.
  • Kamera yang memiliki sensor lebih besar maka akan memiliki viewfinder yang lebih besar pula.
  • Sensor berukuran besar memberikan Depth of Field yang lebih sempit jika dibandingkan denggan sensor ukuran kecil.
Sensor-sensor full-frame bisa ditemukan pada kamera model semi-pro dan pro, dan memiliki dimensi yang sama dengan frame film 35mm. Ukuran resolusi kamera full frame tersebut bisa dikatakan sangat tinggi: Canon EOS-1Ds Mk III memiliki 21.1 juta pixels, Sony Alpha 900 memiliki 24.6 megapixels, sementara Nikon D3x memiliki 24.5 juta pixels.

Sensor APS-H digunakan pada kamera EOS-1D dan sepertinya memang diperuntukkan bagi fotografer sport dan wildlife yang membutuhkan sedikit fungsi extra dari sensor ukuran kecil.APS-C merupakan ukuran sensor yang paling banyak digunakan, Sobat bisa menemukan di banyak kamera DSLR, bahkan pada kamera CSC Sony dan Samsung.Sensor Four-Third merupakan sensor terkecil dari semua sensor yang ada. Berikut ini adalah ukuran-ukuran sensor:

    Full Frame: 36x24mm
    APS-H: 28.7x19.1mm
    APS-c: 23.6x15.5mm (Nikon, Pentax, Sony)
    APS-C: 22.3x14.9mm (Canon)
    Four-Thirds: 17.3x13mm
    Nikon CX-Format: 13.2x8.8mm
    PentaxQ: 6.17x4.55mm


Kepekaan Cahaya
Pada era film, ISO (Internation Standard Organisation) mewakili tingkat kepekaan terhadap film, Sistem ini juga digunalan pada sensor gambar. Semakin rendah tingkat ISO yang digunakan, maka semakin rendah kesensitifan sensor terhadap cahaya, begitu juga sebaliknya. Tetapi satu hal yang perlu diingat adalah ketika Sobat menaikkan ISO maka potensi timbulnya noise akan semakin besar pula, dan mungkin noise ini tidak Sobat inginkan. Jangkauan ISO bervariasi di setiap sensor tetapi pada umumnya ada pada range ISO 100-6400.

Beberapa kamera high-end menawarkan iso terendah sampai ke angka 50, dan ISO maksimal sampai ke 102,400, ISO tinggi tersebut mampu untuk mengambil gambar saat malam hari. Kamera kebanyakan sekarang juga telah melengkapi fiturnya dengan Noise Reduction.


Resolusi Gambar
Sebuah sensor gambar dibentuk dari jutaan pixel. Semakin banyak pixel yang dimiliki oleh sensor maka semakin tinggi resolusinya. Jutaan pixel ini dituliskan sebagai megapixel, jadi sensor 12 juta pixel akan dituliskan dengan 12 megapixel. Mungkin Sobat sering mendengar bahwa semakin besar ukuran pixel maka semakin bagus pula kualitas gambar, tapi itu adalah pendapat yang tidak sepenuhnya benar! Ukuran sensor juga memainkan peran, seperti yang telah kami sebutkan di awal bahwa pixel yang lebih besar pada sensor yang juga lebih besar pada umumnya akan memberikan kualitas yang bagus. image processor, dan optik lensa juga memiliki peran tersendiri bagi kualitas gambar.

Sensor dan Lensa
Jika sobat pernah membaca atau mendengar tentang relasi antara senosr gambar dan lensa mungkin akan terdengar sedikit membingungkan, tetapi Sobat akan terbiasa jika telah mendapatkan beberapa pengalaman. Jika Sobat memiliki Dua lensa yang identik yang bisa dipasang pada kamera dengan sensor full-frame dan APS-C, maka sobat akan melihat hasil dengan perbesaran yang berbeda.

Setiap sensor memiliki crop factor, dimana harus dikalikan dengan focal length untuk memberikan focal lenth yang efektif digunakan. Sebagai contoh: sensor APS-C memiliki crop factor 1.5x (1.6x pada Canon), dan sensor four-third memiliki crop factor 2x, jadi jika Sobat menggunakan lensa 50mm pada kamera bersensor Four-Thirds maka focal length lensa efektif adalah 100mm. Foto yang dihasilkan adalah sama dengan hasil pada 100mm pada kamera film 35mm atau sensor full-frame. Lensa 100-300mm yang digunakan pada DSLR nikon yang bersensor APS-C memiliki focal length efektif 150-450mm. Berikut ini adalah data lengkap crop factor pada setiap sensor:

    Full Frame: 1x
    APS-H: 1.3x
    APS-C: 1.5x (Nikon, Pentax, Sony)
    APS-C: 1.6x (Canon)
    Four-Thirds: 2x
    Nikon CX-Format: 2.7x
    Pentax Q: 5.5x

Langkah Sederhana Memulai Foto Strobist yang Memukau


Strobist merupakan teknik memotret dengan melepaskan flash dari body kamera lalu ditempatkan sesuai kebutuhan dan dihubungkan dengan sinyal triger. Lebih murah dan efisien karena cukup menggunakan baterei AA sehingga dapat digunakan di lokasi pemotretan tanpa colokan listrik.

Tidak heran, teknik ini semakin populer dalam 2 hingga 3 tahun belakangan karena teknologi digital sudah sangat mendukung. Apalagi hasilnya tidak kalah dari lampu 'betulan' yang besar dan berat.

Pertama, tentu membeli peralatan penunjang utama yakni flash, triger dan lightstand (atau flash shoe holder saja, lalu dihubungkan dengan tripod). Sementara payung, softbox dan flash kedua, ketiga dan seterusnya masih merupakan pilihan, tergantung kebutuhan foto.

Flash diperlukan untuk membuat cahaya rekayasa, baik sebagai sumber utama maupun cahaya pendukung bila pemotretan dilakukan di bawah sinar matahari yang terik. Banyak sedikitnya lampu flash yang diperlukan tergantung kebutuhan foto.

Triger diperlukan untuk menghubungkan sinyal dari body kamera ke flash yang telah ditempatkan jauh dari kamera. Di beberapa merek kamera, telah ditanam pemantik khusus sehingga tidak diperlukan triger tambahan. Sebaiknya membaca buku manual terlebih dahulu, apakah kamera Anda sudah terpasang triger atau belum.

Lighstand (tiang penopang lampu). Sebenarnya, tiang ini bisa diabaikan bila menemukan tempat pengganti yang memungkinkan menaruh flash sesuai yang diinginkan, seperti di atas lemari atau meja.

Namun pada praktiknya, tempat yang memungkinkan ini sulit dijumpai. Solusinya, meminta teman untuk memegangkan flash. Kalaupun sendirian, mau tidak mau menggunakan lighstand. Nah, untuk amannya, lebih baik memiliki setidaknya satu lighstand buat hasil yang maksimal.

Selain itu, ada peralatan pendukung lain seperti payung, softbox atau flash kedua, ketiga dan seterusnya. Peralatan pendukung ini dapat diabaikan atau justru sangat diperlukan tergantung kebutuhan foto.

Kedua, seting kamera ditempatkan pada mode M alias Manual. Kenapa? karena dengan mode manual, intensitas cahaya yang masuk ke kamera (diafragma) dan kecepatan kamera bisa dimainkan secara maksimal. Alhasil, dapat menghasilkan efek bayangan yang berbeda-beda dan dicocokan dengan kebutuhan.

Untuk ISO, lebih baik menggunakan ISO rendah antara 100 hingga 400. Bukan karena ISO tinggi tidak bagus, melainkan ISO rendah merupakan ISO 'ideal' untuk foto menggunakan tata lampu yang terukur. Sebagai contoh dalam foto pertama, saya menggunakan ISO 200, f/11 dan kecepatan 1/160. Power flash saya setel di 1/16 supaya tidak terlampau kencang dan hanya membuat cahaya kecil di permukaan wajah.

Dan untuk kualitas gambar, perbanyak menggunakan ukuran Large (L) atau dalam beberapa kasus, tidak ada salahnya menggunakan RAW. Menggunakan resolusi terbaik di kamera memungkinkan hasil lebih maksimal dan meminimalisir kekurangan 'data gambar' yang dihasilkan.

Ketiga, penempatan lampu (flash). Pakem standar memotret dengan lampu yakni lampu utama ditempatkan di atas jidat agak menyerong seperti cahaya matahari sekitar 40 derajat. Penempatan tersebut untuk menghasilkan bayangan paling alamiah dan paling populer dipergunakan.

Tetapi sekali lagi itu panduan dasar. Pada praktiknya, lampu utama bisa ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan fotografi. Bisa ditempatkan di atas frontal, di samping atau dari belakang subjek. Semua berdasar kebutuhan dan imajinasi fotografer hendak membuat foto seperti apa.

Keempat, mensetting lampu. Di beberapa merek, terdapat mode flash otomatis maupun manual. Nah, ada baiknya menggunakan mode Manual di seting lampu flash. Sebab, intensitas cahaya dapat lebih mudah dikontrol dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Pada mode Manual, setidaknya terdapat 2 hal yang patut diperhatikan. Pertama power (kekuatan) lampu. Ditandai dengan hitungan 1/1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 dan 1/128. Hitungan 1/1, kekuatan cahaya paling terang. Sementara kekuatan 1/128, merupakan paling redup. Dengan bermain-main dengan hitungan ini, cahaya dan bayangan bisa dikendalikan sesuai kebutuhan fotografer, bukan?

Kedua, selain power yakni intensitas tebaran cahaya. Biasanya menggunakan angka 24mm, 28mm, 35 mm, 50mm, 70mm, dst. Sederhananya, angka ini berfungsi untuk mengontrol cahaya apakah akan menebar luas ataukah sempit (fokus pada satu titik saja). Pada angka 24mm, cahaya yang tersebar luas. Kebalikannya pada angka 70mm, sebaran cahaya lebih sempit dan pada satu titik tertentu.

Nah, hitung-hitungan kekuatan lampu dan sebaran cahaya sangat dipengaruhi pula oleh jarak lampu dengan subjek yang dipotret. Juga dipengaruhi pula oleh luasnya ruangan pemotretan. Hitung-hitungannya agak rumit dan menggunakan rumus tertentu.

Namun sederhananya, semua bisa disesuaikan di lapangan yakni dengan tes lighting terlebih dahulu. Juga trial error sederhana saat memulai pemotretan.

Dengan 4 langkah singkat tersebut lalu ditunjang imajinasi fotografer yang kuat, maka foto strobist bakal maksimal. Terlebih ditopang dengan citarasa (taste) yang apik serta menggunakan bahasa visual yang komunikatif, maka foto yang Anda hasilkan akan jauh lebih menarik.

Selamat mencoba.

Sabtu, Oktober 19, 2013

Memotret Landscape Saat Sunset

Kualitas cahaya saat matahari tenggelam atau Sunset bisa menjadi saat-saat yang berharga bagi para fotografer landscape. Tidak hanya warna langit yang begitu menarik, tetapi juga sudut rendah matahari bisa memberikan tekstur pada landscape. Sunset memang menawarkan potensi atau peluang foto landscape yang hebat, tetapi juga memiliki tantangan tersendiri yang harus Sobat atasi guna memaksimalkan potensi-potensi foto hebat yang ada. Berikut ini beberapa tips serta pendekatan yang bisa dilakukan saat memotret sunset.


Pengaturan Kamera
Pertanyaan yang pasti terlintas adalah: "Pengaturan seperti apa yang bisa saya gunakan saat memotret sunset?". Memotret saat sunset sebetulnya tidak berbeda dengan pemotretan landscape lainnya, berikut ini bisa dijadikan acuan awal yang bagus:
  • Mode Pemotretan: Manual
  • ISO: 100
  • Aperture: f/11 (Depth of Field luas, tanpa menurunkan kualitas gambar)
  • Shutter Speed: Sesuaikan dengan kondisi langit yang terekam dalam gambar (percepat jika tampak terlalu terang, dan perlambat jika langit terlalu gelap).
  • White balance: Daylight/Sunny jika Sobat memotret menggunakan JPEG

Hal yang perlu diingat bahwa pengaturan kamera bukan sebuah parameter yang menjamin keberhasilan foto sunset kalian, berikut ini adalah beberapa hal yang juga perlu dipertimbangkan:

Exposure
Hal yang menarik dari Sunset adalah langit cerah bewarna merah, pink serta oranye, dan tidak sedikit Sobat Magic4rt yang tergoda untuk menjadikan langit sebagai Focal Point atau Point of Interest, Sobat meng-ekspose langit, dan menjadikan elemen-elemen lainnya menjadi semacam siluet. Jika foto tersebut memiliki komposisi yang bagus sih tidak masalah, tetapi jika tidak maka penikmat foto kalian tidak memiliki hal lain selain langit untuk dilihat, jadi mereka secara cepat kehilangan ketertarikan terhadap fofo-fofo sunset kalian.

Salah satu kelebihan sunset adalah cahaya bewarna keemasan yang menerangi area didepan kalian dengan bayangan-bayangan yang panjang. Memotret langit serta area tersebut bisa membuat foto-foto landscape kalian lebih menarik. Tetapi Sobat akan menemui tantangan: Ketika matahari rendah, langit akan bewarna cerah tetapi tidak pada area tanah di depan kalian. Perbedaan tingkat kecerahan ini bisa menimbulkan masalah terhadap foto kalian. Jika perbedaan terlalu jauh, maka sobat akan kehilangan detail langit atau bayangan di tanah

Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah tersebut:
  • Gunakan filter Graduated Natural Density (GND).
  • Ambil beberapa gambar (satu gambar mengekspose langit, dan satu mengekspose bagian tanah), gabungkan Dua foto tersebut menggunkaan perangkat lunak editing gambar.
  • Kedua cara diatas memiliki kesulitan tersendiri diantaranya adalah: timbulnya flare dari penggunaan filter atau ada gambar tidak benar-benar identik saat pengambilan dua gambar (biasanya diakibatkan karena adanya gerakan).

Komposisi
Saat memotret sunset tentu Sobat ingin juga menyertakan matahari di dalam frame dong. Jika posisi matahari masih relatif tinggi, maka eksposure yang pas cukup sulit untuk didapatkan. Sobat bisa menunggu sampai matahari masuk ke horizon, sehingga Sobat akan lebih mudah mendapatkan exposure.

Pilihan lainnya adalah jangan menyertakan matahari dalam frame foto kalian. memang Sobat akan kehilangan "drama" dari matahari itu sendiri, tetapi Sobat masih bisa mendapatkan nuansa waktu atau senja, tanpa kesulitan untuk mendapatkan exposure yang pas.

Jangan berkemas ketika matahari telah tenggelam
Banyak sekali fotografer landscape yang bergegas pulang ketika matahari sudah tidak tampak lagi, coba tunggu sekitar 10 menit. Cermati awan-awan yang ada dilangit akan berganti warna dengan disertai berkas-berkas cahaya matahari, scene ini tentu masih menawarkan foto-foto yang menarik bukan?. Sobat akan membutuhkan tripod karena shutter speed yang Sobat dapatkan tidak secepat di awal.

Cobalah memotret Sunrise
Apa yang kami tuliskan diatas, bisa berlaku juga loh pada pemotretan sunrise, tentu bangun lebih bagi bisa menjadi tantangan tambahan ketika memotret sunrise :)

Sabtu, Oktober 12, 2013

Pentax k-3 Bebaskan Pengguna Memakai Filter Anti-Aliasing






Belum lama ini Ricoh merilis DSLR papan atasnya dengan seri K-3. Kamera yang berisikan sensor APS-C ini asyiknya memberikan kebebasan pada pengguna dalam pemakaian filter anti-aliasing.

Ya, di sini Ricoh memberikan opsi tersebut sehingga pengguna bisa memilih apakah ingin mendapatkan foto yang tajam alias menonaktifkan filter AA, atau memilih untuk mencegah kemunculan moire dengan cara mengaktifkan fiter tersebut.

Di dalamnya, K-3 dibekali dengan sensor APS-C berkekuatan 23,35 MP dan PRIME III image processor yang bisa menangkap video full HD 1080i/p dengan ISO hingga 51200.

Dalam mode continuous shooting, K-3 mampu membidik 8,3 fps pada resolusi penuh. Shutter speed-nya bisa mencapai 1/8000 detik. Untuk titik fokus, kamera ini memiliki 27 titik fokus dimana 25 di antaranya berjenis cross type, salah satu peningkatan dari K-5 II.

Ricoh menyebut jagoan barunya ini sebagai DSLR paling canggih dengan spesifikasi yang tak tertandingi. Dibalut material magnesium alloy dan stainless steel, kamera ini didesain tahan cuaca.

Fitur lain yang pantas dicatat adalah in-body stabilization, Pentaprism Optical Viewfinder yang menawarkan cakupan pandangan 100% dengan magnifikasi 0,95, lantas ada slot dual card, built-in HDMI dan port untuk USB 3.0.

Terdapat juga in-camera HDR image-capture, serta built-in electronic level. K-3 kompatibel juga dengan kartu memori 16GB FLU SDHC yang memungkinkan pengguna melakukan pengontrolan kamera melalui web browser.

"Ricoh Imaging membuat investasi untuk memastikan lini produk kami menyajikan penawaran APS-C paling komplit dalam sejarah kami," tukas Jim Malcolm Executive Vice President Ricoh Imaging. "Gol kami dibuktikan dengan perkenalan K-3. Malcolm mengklaim, teknologi yang diusung ini melahirkan patokan untuk kategori APS-C secara kesleuruhan".

Dikutip dari Engadget Jumat (10/11/2013), Pentax K-3 dibanderol USD 1,300 (body only) dan USD 1,700 yang dibundling dengan lensa 18-135mm f/3.5-5.6 WR.

Jumat, Agustus 30, 2013

Penyebab Vinyeting di Foto dan Solusinya


Vinyeting (gelap di ujung foto) bisa terjadi karena beberapa faktor di antaranya:

- Penggunaan filter yang terlalu tebal sehingga menghalangi cahaya masuk ke lensa.
- Penggunaan lens hood (topi lensa) yang terlalu besar, atau tidak pas.
- Menggunakan setting bukaan terlalu besar bisa memunculkan vinyet.
- Lensa yang digunakan berkualitas rendah atau tidak cocok dengan kamera.

Solusinya antara lain mencoba untuk melepas filter dan lens hood, lalu mengunakan setting bukaan yang sedang/kecil misalnya f/5.6-f/11. Pantau hasil foto apakah masih terjadi vinyeting.

Lalu untuk foto yang sudah terlanjut vinyet, bisa kita krop/potong. Cara lain yaitu dengan dibuat terang lewat olah digital jika memang masih bisa diselamatkan.